Cerita ini ku alami ketika aku sedang nyaman makan bangku sekolah di SMA AL ISLAM I SURAKARTA, JAWA TENGAH kelas 2 SMA. Saat itu aku berada di posisi Kepala Bidang Ilmu dan Pengetahuan dan Bahasa, OSIS SMA. Meski saat itu kesadaran berorganisasi dan kepemimpinanku sangat minim, dan program-programku banyak tidak berjalan karena ketidak beranianku melangkah, setidaknya salah satu program kerjasamaku dengan Bisang Humas OSIS SMA dalam menerbitkan Buletin di SMA - dan aku di posisi Pimpinan Redaksi - berjalan beberapa kali. Disinilah titik letak cerita itu.
Biar aku beritahukan, karena sekolahku adalah SMA swasta Islam, oleh karena itulah tidak ada ROHIS di SMAku, yang ada, semua program OSIS harus bernafaskan Islam. Sehingga, tidak ada pemisahan program-porgram keilmuan ataupun social yang terlepas dari nilai-nilai keislaman. Tidak ada unsur-unsur usaha menyekulerkan program-program. Jadi dari sisi Organisasi, bahkan pihak Sekolah, tidak ada masalah dalam hal nilai-nilai keislaman.
Yang menjadi masalah justru pada mad’u (yang didakwahi), dalam hal ini adalah teman-teman SMAku. Okelah tidak bisa digeneralisir. Namun, beberapa kali pengalamanku berada di sekitar teman-teman SMAku, termasuk salah satunya program bulletin kami memberikan fakta yang perlu di cermati, khususnya melihat peliknya pendidikan moral dan keislaman di SMA swasta Islam.
Kembali ke bulletin tadi, dalam penerbitannya, tentu saja kami rapat, menentukan tema, lantas kami berbagi tugas dalam pencarian artikel, kemudian eksekusi, dicetak, lalu didistribusikan. Jujur aku akui, karena karakterku sebagai PimRed sering grusa-grusu (Jawa=tergesa-gesa), banyak isi dan kebijakan yang lebih ku dominasi dibanding teman-teman lainnya. Bahkan, sering kali ketika teman-teman di kejar deadline dan tidak menepati jadwal penerbitan, aku turun tangan menghandle hampir semua artikel. Memang sangat tidak sehat, karena pola pikirku yang masih menggebu-gebu dan cenderung terlalu dini dalam bertindak, sehingga aku menuntut deadline lebih dari kualitas, meskipun perbaikan demi perbaikan selalu kami usahakan dengan evaluasi di sana sini.
Karena pihak sekolah hanya menjanjikan dana 3 kali edisi saja, yang masing masing untuk 2 rim, dengan Rp 300.000,- dan keterbatasan kami dalam mengelola keuangan karena minim pengalaman, dan network, kami berupaya membuat edisi ini berlanjut nantinya. Kami memutuskan, salah satunya iuran setiap kelas sekitar + Rp 20.000,- per edisi atau per bulannya. Pasalnya, tidak semua kelas merasa penting dengan bulletin tersebut, banyak yang berpikir toh hanya bulletin. Nah, pada satu titik, hal ini menjadi kendala.
Suatu ketika bulletin kami, membahas maraknya hal-hal hedonistic dan gaya hidup dunia entertainment saat itu. Satu artikel Valentine, kemudian disusul edisi berikutnya dengan artikel perihal AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang saat itu sedang maraknya. Artikel tersebut lebih bergaya tulisan teenlit, tidak berat, penuh sindiran, terkadang menyakitkan dan memang, aku akui secara pribadi sering “nylekit”(Jawa=lebih menyakiti hati dan menyinggung) dengan fenomena social yang ada.
Di edisi Valentine, seperti media islam pada umumnya, kami hendak membangun opini public, bahwa Valentine adalah produk jahiliyah dan tidak patut di contoh. Dan karena warga SMA kami secara diam-diam banyak yang pacaran juga meski di larang keras pihak sekolah yang nota bene Islam, kami sadar harus menghubungkannya dengan banyak sindiran tentang pacaran dengan berbagai dampak negatifnya. Bahkan edisi berikutnya, perihal AFI dan rokok, kami habis-habisan menyerang kebiasaan buruk dan gaya hidup yang cederung hedonis. Memang, aku akui pribadi, akulah yang mencetuskan ide-ide tulisan tersebut, dan dengan keterbatasan bahasa, minimnya data serta argument yang kurang mendasar, posisi opiniku menjadi tidak kuat dan cenderung menggurui, menyindir ini itu, sok suci dan sok benar. Itulah fakta yang ternyata aku ketahui pasca distribusi bulletin tersebut.
Sekali lagi ku katakan tidak ada masalah dengan pihak Sekolah, karena beliau, guru-guru sangat mendukung opini tersebut. Yang menjadi masalah justru ketika opini tersebut dihantamkan ke pihak civitas akademik SMA kami. Memang sekolah kami Islam, namun hal tersebut hanya sebuah system. Di dalamnya tercipta berbagai habbit dan gaya hidup yang amat heterogen. Ada kelomok yang militan dalam memakai jubah keislamannya, ada yang funky and gaul dengan gaya hidup hedonis, ada pula produk sisa karena tidak lulus seleksi SMA Negri favorit. Semua berpulang pada individu. Sistem hanya mencoba membentuk. Seketat apapun peraturan dan sehebat apapun program dan habbit yang hendak diciptakan, semua kembali kepada individu. Disinilah contoh nyata ketika tulisanku di bulletin mendapat kritik tajam dan respon berbagai pihak siswa.
Feedback adalah yang sangat menyenangkan buatku, artinya tulisanku di hargai, meski dengan berbagi kritik. Namun satu hal yang ku temui, dengan kritik yang dibangun meluap-luap, bukan dengan argument tandingan, tapi justru emosi sesaat dan kritik justru ditujukan pada individu, dalam hal ini jelas aku mengorbankan teman-temanku satu tim bulletin yang mendapat cap sok suci dan sok benar. Respon ini diberikan melalui tulisan tangan yang dicoret-coretkan ke dalam bulletin sekian eksemplar dan dibungkus seadanya. Berikut beberapa tulisan yang aku ingat dan yang semacamnya :
“Ngoco … o! Ojo sok suci! Ojo ngroso bener dewe!” (Jawa=“Berkacalah ! Jangan Sok Suci! Jangan merasa benar sendiri!”), dan banyak tulisan lagi yang aku lupa yang lebih menyakitkan.
Menyakitkan karena tidak jantan dalam beradu argument. Dan parahnya berasal dari kalangan terpelajar Islam. Tapi menurutku memang sangat wajar ketika emosi tersebut meluap-luap. Pasalnya tulisanku premature, dan miskin dasar serta sarat kata menyindir. Tapi bagiku pribadi, kebenaran memang sering kali pahit, bahkan terkesan kita kaburo maktan (mengatakan apa yang tak bisa kita lakukan). Tapi bagiku ini juga dakwah dengan tulisan, terkadang menyentuh hal-hal sensitive dan tidak semua orang bisa menerima, dan inilah resiko.
Sayangnya, imbas dari tulisan edisi tersebut mengangkatku menjadi orang yang tidak dipercaya dalam membawa opini ke public. Dan hal ironis yang paling membuatku muak adalah : kami bergantung pada iuran setiap kelas untuk bisa produksi edisi selanjutnya. Aku memang lemah, dan dengan berbagai kondisi minim SDM dan dana serta krisis kepercayaan serta miskin ilmu keislaman dan jurnalistik, saat itu langkahku terhenti. Sayang seribu sayang…
Di balik itu semua ada sekian hikmah yang ku petik. Yang pertama, dakwah dengan tulisan memang harus berani menegaskan ideology, tapi harus dengan metodologi yang cantik dan cerdas, berbobot serta tidak menggurui. Yang kedua, semua yang kita tuliskan selalu beresiko, baik di depan manusia, bahkan dipertanggung jawabkan di depan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Yang ketiga, cerita ini menjadi sekian fakta pendidikan Islam di sekolah swasta Islam. Ada yang salah dengan pendekatan pendidikan moral dan keilmuan di SMA swasta Islam. Tapi seperti yang ku kemukakan di awal, sekolah Islam hanyalah sebuah system. Bisa jadi sistemnya ideal, dan individu yang tecipta menjadi lebih baik. Bisa pula sistemnya ideal, namun semua lebih berpeluang pada individu, karakter dan pendidikan dari keluarga, sehingga tidak bisa sepenuhnya membentuk karakter keislaman. Dan bisa jadi sistemnya menuai banyak kritik yang perlu banyak dibenahi. Itu PR kita bersama untuk mendidik masyarakat, kaum intelektual khususnya, dan umat Islam pada umumnya.
Anehnya, beberapa bulan kemudian, seorang Afifah Afra, FLP Solo yang terkenal piawai menulisnya, menuliskan ide-ide tulisan, yang pernah ku terbitkan via bulletin tadi. Lewat bukunya tentang AFI dan teman-temannya, aku lupa judul aslinya, yang jelas hampir mirip ide tulisn yang hanya tertuang dalam kolom kecil bulletin kami. Tentu saja bukan karena aku, tapi terlebih karena beliau peka social dan menelurkannya jauh dengan gaya yang lebih sopan, tidak menggurui serta mengenakkan dibaca. Syukurlah, aku benar benar merasa hangat … Maha Benar Alloh dengan segala firmanNya.
Dan sekarang, aku berada di posisi independen, dan aku siap memupuk segala keilmuanku, dan tak kan surut langkahku untuk mendakwahkan islam lewat tulisan, dan pasti penuh resiko. Zutto Ikitei …
Tidak ada komentar:
Posting Komentar