Pengarang : Erwan Widyarto
Penerbit : ADIWACANA
Cetakan : Pertama, Maret 2007
Kritik amat diperlukan sebagai wadah pengontrol sosial sekaligus menjadi aspirasi masyarakat. Masalahnya, kita, bangsa Indonesia , dibenturkan dua realitas di sekitar kita. Pertama, sebagai bangsa timur yang memegang adat kesopanan - meski telah banyak ditinggalkan, kita terbiasa segan mengungkapkan kritik di muka umum untuk orang yang kita anggap dihormati dan disegani, seperti elite pejabat dan pemerintahan. Wal hasil, jarang ada, orang, sebenarnya tahu adanya sebuah kesalahan yang perlu dibenahi, terkadang tidak mengungkapkannya ke publik meski telah di jamin Undang Undang. Seiring arus budaya barat, jiwa kritis nan bebas kian tumbuh di masyarakat. Nilai ini positif ketika keberanian dan sikap tanggung jawab ditonjolkan. Namun faktanya, masyarakat terjebak paradigma, bahwa mengkritik itu bebas, menodai kehormatan pihak yang dikritik. Tell the truth, tapi tidak mengindahkan etika ketimuran.
Kedua, masyarakat elite politik dan pejabat pemerintah yang biasa dikritik cukup arogan, lagi rentan terhadap kritik. Kebesaran hati sebagai seorang pemimpin belum nampak nyata di tengah keberlangsungan proses demokratisasi bangsa yang beradab ini.
Kita dapatkan pelajaran penting, bahwa mengkritik, ternyata haruslah cerdas. Orang cerdaslah yang bisa mengkritik cerdas. Melalui buku ini, kita, publik Indonesia yang belajar mengkritik, dipandu untuk selalu peka terhadap realitas di sekitar kita. Mulai dari masalah sosial, ekonomi, kebijakan pemerintah hingga segala hal yang mendorong kita berpikir bahwa bangsa ini, memang dalam masa keterpurukan dan merintih. Karena dengan mengetahui fakta sosial lah kita baru bisa mengkritik. Tahu pokok permasalahan, Coba memperbaiki keadaan. Berikan kritik dan saran konstruktif. Dan akhirnya, memberikan solusi terbaik.
Karangan seorang jurnalis profesional yang telah malang melintang, melanglang buana di dunia jurnalisme investigatif ini sangat unik. Prestasinya terbukti pada kepiawaiannya dalam meracik detil persoalan, menjadi materi laksana jamuan kesadaran perihal eksistensi kita sebagai saksi sejarah. Sebagai pengantar, Moh Mahfud MD membumbuinya dengan cerita cerita unik. Menjadi satu kesatuan yang nyaman dibaca.Keinginan seorang penulis dalam mengkritik secara fair dibuktikan dengan tampilnya empat aktor dalam setiap tulisan beserta “figuran” lainnya. Susilo, Bambang, Yudho dan Yono (SBY dan Y) melakukan kerja NGRASANI elite politik dan pejabat pemerintah lainnya sebagai pelaku penentu kebijakan sebagai seorang pemimpin yang menerima kritik.
Meminjam kata Moh Mahfud MD, buku ini membuat pembaca terperangkap dan sulit berhenti membaca karena keasyikan. Bahasanya sangat mengalir, kocak, mudah di mengerti dan padat berisi menjadi faktor penting penulisan buku ini. Bisa dibaca kapan saja, dimana saja, dalam posisi apapun asal memungkinkan membaca minimal 7 menit standar kecepatan baca. Bagi pembaca yang mempunyai kesibukan dan kekauan kehidupan, bahkan stress, buku ini sangat tepat membantu mengurangi, bahkan menghilangkan deprsi yang dialami. Bukan karena entitasnya, tapi justru terminal terminal yang disediakan dalam bentuk paket tulisan yang cukup pendek membuat buku ini bisa dibaca terpotong potong, tidak masalah ketika tidak urut, dan efek psikologis yang dihasilkan. Untuk setiap tulisan 7 menit baca, ada paket persoalan yang mengajak pembaca untuk melakoni jargon PERS (Peduli, Empati, Responsibilitas atau Responsif, dan Sensitif). Wal hasil, manifestasinya membuat pembaca tersenyum kecut, tersenyum sinis, tertawa renyah, bahkan mengurut dada.
Bagi siapapun yang bercita cita menjadi cerdas, belajar untuk cerdas atau memang sudah cerdas, buku ini menjadi amat menarik sekaligus unik dengan berbagai bumbu bumbu sindiran politik kritis nan pedas, namun tetap renyah dan tidak menyakitkan. Tidak hanya selesai disini, realitas yang dibawa penulis membuat wawasan pembaca menjadikannya menjadi orang dengan kategori yang bisa dibilang “GAUL” dan “modern”. Pasalnya, buku ini mengajarkan bagaimana membuat kritik menjadi santapan yang tidak menyebabkan masalah, namun menghadirkan keprihatinan sosial yang harus ditelaah dan masalah Indonesia yang segera harus diselesaikan, membuat bangsa ini bangkit dari keterpurukan.
Sayangnya, materi tulisan yang mendasarkan referensinya pada tulisan Radar Jogja tahun 2006 ini terkesan “kuno”. Fakta yang tidak update membuat buku ini sulit diprioritaskan dibanding bacaan lain. Wal hasil, cepat atau lambat, kemungkinan besar, buku ini akan mudah “usang”. Selain itu, penyusunannya yang mendasarkan pada berita koran, membuat pembaca merasa kesuitan mengingat-ingat kasus yang terjadi meski samar samar masih cukup mengiang. Bahkan, yang cukup menjadi masalah, karena buku ini bersifat alternatif, lagi selingan, buku ini hanya mengkritisi, bukan menjadi solusi. Yang terjadi, masalah banyak yang dibiarkan mengambang. Karena toh, mungkin, kehidupan bangsa ini ditentukan kebijakan pemerintah, jadi memang bukan ditujukan untuk mengadvokasi, hanya kritikan cerdas yang bersifat sindiran sesuai judulnya, NGRASANI.
Barangkali buku ini akan membawa metode klasik yang dibungkus dengan sampul baru dalam mengungkapkan kritik sosial ke muka publik terhadap realitas kehidupan Indonesia. Sebagai bangsa yang baik, tentunya kita sangat menghargai adanya kritik yang konstruktif tentunya. So, apakah anda ingin mulai menjadi pribadi yang cerdas, kritis dan GAUL ? Anda harus baca buku ini secepatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar