Minggu, 28 Desember 2008

Ada Apa dengan SMA Swasta Islam ?

Meski sudah lama berlalu, aku ingin menceritakannya sekarang. Terlambat bukan masalah dari pada tidak sama sekali. Menurut hematku, ada baiknya ku ceritakan untuk menjadi hikmah.
Cerita ini ku alami ketika aku sedang nyaman makan bangku sekolah di SMA AL ISLAM I SURAKARTA, JAWA TENGAH kelas 2 SMA. Saat itu aku berada di posisi Kepala Bidang Ilmu dan Pengetahuan dan Bahasa, OSIS SMA. Meski saat itu kesadaran berorganisasi dan kepemimpinanku sangat minim, dan program-programku banyak tidak berjalan karena ketidak beranianku melangkah, setidaknya salah satu program kerjasamaku dengan Bisang Humas OSIS SMA dalam menerbitkan Buletin di SMA - dan aku di posisi Pimpinan Redaksi - berjalan beberapa kali. Disinilah titik letak cerita itu.
Biar aku beritahukan, karena sekolahku adalah SMA swasta Islam, oleh karena itulah tidak ada ROHIS di SMAku, yang ada, semua program OSIS harus bernafaskan Islam. Sehingga, tidak ada pemisahan program-porgram keilmuan ataupun social yang terlepas dari nilai-nilai keislaman. Tidak ada unsur-unsur usaha menyekulerkan program-program. Jadi dari sisi Organisasi, bahkan pihak Sekolah, tidak ada masalah dalam hal nilai-nilai keislaman.
Yang menjadi masalah justru pada mad’u (yang didakwahi), dalam hal ini adalah teman-teman SMAku. Okelah tidak bisa digeneralisir. Namun, beberapa kali pengalamanku berada di sekitar teman-teman SMAku, termasuk salah satunya program bulletin kami memberikan fakta yang perlu di cermati, khususnya melihat peliknya pendidikan moral dan keislaman di SMA swasta Islam.
Kembali ke bulletin tadi, dalam penerbitannya, tentu saja kami rapat, menentukan tema, lantas kami berbagi tugas dalam pencarian artikel, kemudian eksekusi, dicetak, lalu didistribusikan. Jujur aku akui, karena karakterku sebagai PimRed sering grusa-grusu (Jawa=tergesa-gesa), banyak isi dan kebijakan yang lebih ku dominasi dibanding teman-teman lainnya. Bahkan, sering kali ketika teman-teman di kejar deadline dan tidak menepati jadwal penerbitan, aku turun tangan menghandle hampir semua artikel. Memang sangat tidak sehat, karena pola pikirku yang masih menggebu-gebu dan cenderung terlalu dini dalam bertindak, sehingga aku menuntut deadline lebih dari kualitas, meskipun perbaikan demi perbaikan selalu kami usahakan dengan evaluasi di sana sini.
Karena pihak sekolah hanya menjanjikan dana 3 kali edisi saja, yang masing masing untuk 2 rim, dengan Rp 300.000,- dan keterbatasan kami dalam mengelola keuangan karena minim pengalaman, dan network, kami berupaya membuat edisi ini berlanjut nantinya. Kami memutuskan, salah satunya iuran setiap kelas sekitar + Rp 20.000,- per edisi atau per bulannya. Pasalnya, tidak semua kelas merasa penting dengan bulletin tersebut, banyak yang berpikir toh hanya bulletin. Nah, pada satu titik, hal ini menjadi kendala.
Suatu ketika bulletin kami, membahas maraknya hal-hal hedonistic dan gaya hidup dunia entertainment saat itu. Satu artikel Valentine, kemudian disusul edisi berikutnya dengan artikel perihal AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang saat itu sedang maraknya. Artikel tersebut lebih bergaya tulisan teenlit, tidak berat, penuh sindiran, terkadang menyakitkan dan memang, aku akui secara pribadi sering “nylekit”(Jawa=lebih menyakiti hati dan menyinggung) dengan fenomena social yang ada.
Di edisi Valentine, seperti media islam pada umumnya, kami hendak membangun opini public, bahwa Valentine adalah produk jahiliyah dan tidak patut di contoh. Dan karena warga SMA kami secara diam-diam banyak yang pacaran juga meski di larang keras pihak sekolah yang nota bene Islam, kami sadar harus menghubungkannya dengan banyak sindiran tentang pacaran dengan berbagai dampak negatifnya. Bahkan edisi berikutnya, perihal AFI dan rokok, kami habis-habisan menyerang kebiasaan buruk dan gaya hidup yang cederung hedonis. Memang, aku akui pribadi, akulah yang mencetuskan ide-ide tulisan tersebut, dan dengan keterbatasan bahasa, minimnya data serta argument yang kurang mendasar, posisi opiniku menjadi tidak kuat dan cenderung menggurui, menyindir ini itu, sok suci dan sok benar. Itulah fakta yang ternyata aku ketahui pasca distribusi bulletin tersebut.
Sekali lagi ku katakan tidak ada masalah dengan pihak Sekolah, karena beliau, guru-guru sangat mendukung opini tersebut. Yang menjadi masalah justru ketika opini tersebut dihantamkan ke pihak civitas akademik SMA kami. Memang sekolah kami Islam, namun hal tersebut hanya sebuah system. Di dalamnya tercipta berbagai habbit dan gaya hidup yang amat heterogen. Ada kelomok yang militan dalam memakai jubah keislamannya, ada yang funky and gaul dengan gaya hidup hedonis, ada pula produk sisa karena tidak lulus seleksi SMA Negri favorit. Semua berpulang pada individu. Sistem hanya mencoba membentuk. Seketat apapun peraturan dan sehebat apapun program dan habbit yang hendak diciptakan, semua kembali kepada individu. Disinilah contoh nyata ketika tulisanku di bulletin mendapat kritik tajam dan respon berbagai pihak siswa.
Feedback adalah yang sangat menyenangkan buatku, artinya tulisanku di hargai, meski dengan berbagi kritik. Namun satu hal yang ku temui, dengan kritik yang dibangun meluap-luap, bukan dengan argument tandingan, tapi justru emosi sesaat dan kritik justru ditujukan pada individu, dalam hal ini jelas aku mengorbankan teman-temanku satu tim bulletin yang mendapat cap sok suci dan sok benar. Respon ini diberikan melalui tulisan tangan yang dicoret-coretkan ke dalam bulletin sekian eksemplar dan dibungkus seadanya. Berikut beberapa tulisan yang aku ingat dan yang semacamnya :
“Ngoco … o! Ojo sok suci! Ojo ngroso bener dewe!” (Jawa=“Berkacalah ! Jangan Sok Suci! Jangan merasa benar sendiri!”), dan banyak tulisan lagi yang aku lupa yang lebih menyakitkan.
Menyakitkan karena tidak jantan dalam beradu argument. Dan parahnya berasal dari kalangan terpelajar Islam. Tapi menurutku memang sangat wajar ketika emosi tersebut meluap-luap. Pasalnya tulisanku premature, dan miskin dasar serta sarat kata menyindir. Tapi bagiku pribadi, kebenaran memang sering kali pahit, bahkan terkesan kita kaburo maktan (mengatakan apa yang tak bisa kita lakukan). Tapi bagiku ini juga dakwah dengan tulisan, terkadang menyentuh hal-hal sensitive dan tidak semua orang bisa menerima, dan inilah resiko.
Sayangnya, imbas dari tulisan edisi tersebut mengangkatku menjadi orang yang tidak dipercaya dalam membawa opini ke public. Dan hal ironis yang paling membuatku muak adalah : kami bergantung pada iuran setiap kelas untuk bisa produksi edisi selanjutnya. Aku memang lemah, dan dengan berbagai kondisi minim SDM dan dana serta krisis kepercayaan serta miskin ilmu keislaman dan jurnalistik, saat itu langkahku terhenti. Sayang seribu sayang…
Di balik itu semua ada sekian hikmah yang ku petik. Yang pertama, dakwah dengan tulisan memang harus berani menegaskan ideology, tapi harus dengan metodologi yang cantik dan cerdas, berbobot serta tidak menggurui. Yang kedua, semua yang kita tuliskan selalu beresiko, baik di depan manusia, bahkan dipertanggung jawabkan di depan Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Yang ketiga, cerita ini menjadi sekian fakta pendidikan Islam di sekolah swasta Islam. Ada yang salah dengan pendekatan pendidikan moral dan keilmuan di SMA swasta Islam. Tapi seperti yang ku kemukakan di awal, sekolah Islam hanyalah sebuah system. Bisa jadi sistemnya ideal, dan individu yang tecipta menjadi lebih baik. Bisa pula sistemnya ideal, namun semua lebih berpeluang pada individu, karakter dan pendidikan dari keluarga, sehingga tidak bisa sepenuhnya membentuk karakter keislaman. Dan bisa jadi sistemnya menuai banyak kritik yang perlu banyak dibenahi. Itu PR kita bersama untuk mendidik masyarakat, kaum intelektual khususnya, dan umat Islam pada umumnya.
Anehnya, beberapa bulan kemudian, seorang Afifah Afra, FLP Solo yang terkenal piawai menulisnya, menuliskan ide-ide tulisan, yang pernah ku terbitkan via bulletin tadi. Lewat bukunya tentang AFI dan teman-temannya, aku lupa judul aslinya, yang jelas hampir mirip ide tulisn yang hanya tertuang dalam kolom kecil bulletin kami. Tentu saja bukan karena aku, tapi terlebih karena beliau peka social dan menelurkannya jauh dengan gaya yang lebih sopan, tidak menggurui serta mengenakkan dibaca. Syukurlah, aku benar benar merasa hangat … Maha Benar Alloh dengan segala firmanNya.
Dan sekarang, aku berada di posisi independen, dan aku siap memupuk segala keilmuanku, dan tak kan surut langkahku untuk mendakwahkan islam lewat tulisan, dan pasti penuh resiko. Zutto Ikitei …

Kamis, 25 Desember 2008

cOKLAT Valentine eGOIS

Akhirnya, kutemukan juga komputer ini untuk melampiaskan semuanya. Lumayan, 50 menit sebelum maghrib, sepertinya masih tersisa waktu menelurkan ide-ide menulis sor ini. Pasti bisa! dalam hati ku menyemangati diri. Ketik jari mengikuti alunan ”My Will” inuyashaku yang bergejolak dari mp3 ku. Mengaku aktivis dakwah, tapi masih saja penikmat anime dan barang-barang hedonistik lainnya. What ever people say. Here we Go!
Taruna Melati IRM Solo sudah berakhir, tugasku selaku SC Training sudah berakhir. Selanjutnya Follow Up. Ada baiknya aku perlu memikirkan untuk mempercayakan pada staff, aku perlu menyadari posisiku hanya koordinator bidang, saatnya ku kembali ke jogja dengan dunia kampus upgradable. O.. tidak, aku lupa, aku akan kembali ke neraka, kuliah, praktikum, laporan, Ugh.......... Ah, saatnya ku siapkan mental, upgrade, meski dengan sedihnya ku akui IPK turun, tapi aku menetapkan hati, mantep dengan jalur aktivis. Organisasi terlalu tabu menjadi alasan hambatan akademis, seorang iim tidak akan dengan mudah menyerah pada IPK, jalan dakwah masih panjang, man! Bismillah!
Eit, aku lupa, kemarin tiba-tiba ada sms yang ku harap nyasar, bunyinya denbgan jelas mengisyaratkan aku ditunjuk untuk menjadi kepala bidang MO Rohis Fakultas. Apa itu Bidang MO pun tak terpikir olehku. Aku juga menebak-nebak, sepertinya bagian dari media, perhaps... Benar tidaknya tak perlu ku pikirkan lama dengan Sandi Huffman seperti penjelasan mata kuliah Probabilitas pagi kemarin yang masih lekat ku ingat. Mungin pengusulnya tak lagi menemukan pengganti, kehabisan ide dan kader dakwah. Ehm...mungkin Seorang anak desa puber akan ditarik ke kancah aktivis kampus. Aku...? Siap kah? Sementara hatiku masih terpaut dengan seekor virus pink yang menyelusup menghinggap hingga urat leher, jantung dan jiwa. Ahh.. Ada kata lain yang lebih sederhanakah untuk menyatakannya? Ya, love, kata apalagi yang cukup mewakili itu. Sudahlah, ku perlu kembali ke dunia nyataku, jauh-jauh ku pinggirkan pikiranku dari dunia ilusi itu.
Wathau.... baterai mp3ku habis, mp3ku tak mendesah lagu-lagu lagi, apa jadinya dunia tanpa nada bagiku, ayo.., ayo.. temukan apapun untuk mendengar musik! Yup, akhirnya ku dapat, sound Simbada ini bisa ku tancap ke PC, file-file mp3ku ku transfer langsung ke folder komputer, dengan segra ku klik aplikasi winamp. Wah... asik juga mendesah lagu dengan keras. Hii.. cukup mengganggu makhluk-makhluk di sekitarku yang sedang browsing di ruang workshopnya KMTE, nih! Tak apa, lah! Segra ku klik play, lagu album Chemistry, saatnya Japanese! ... ku kembalikan fokus pikiranku di depan monitor.
Belum sempat ku lanjutkan artikel non fiksiku, tiba-tiba suara aneh datang, cuap-cuap...”Woy, robo linenya mas! Jadi ikutan nggak seh! Ayo, duitnya kumpulin, kemaren gak ikut kumpul, kan? Kemana ja, sih, loe?”, dengan ketusnya suara itu datang dari sudut pintu rampal workshop TE, mengganggu pusat titik big-bang otak fuzyku yang sudah sistematis untuk sebuah artikel propagandis di depan monitor Samsung. ”Aduh, kemaren, tuh, ku ada kuliah perdana pak Budi, TLL. Kan dah jadi anak telkom! Ya wajib dong seorang dosen BDS hinggap dihatiku”, dengan sedikit mual aku mengingat wajah bijak nan culun beliau, pak Budi. kejamnya aku mengatai wajahnya. ”Lagian, abis itu, aku ngurus bea siswa PPA dari univ, dead linenya besok senin boz! Sory, aku tak kasih kabar sama kamoe! Jadi, tugasku apa, neh? Yang gampang aja, ya, Rif!” belaku.
Yup, bulan depan Robo Line Contest menjadi ajang kontes robot line follower Fakultas Teknik UGM. Berlomba membuat program terhandal untuk mengikuti garis dengan efisien, ditambah faktor mekanis motor yang dipakai untuk menentukan torsi yang tepat dan kecepatan yang proporsional untuk mendapatkan finish yang mulus. Tantangan berat untuk anak Teknik Elektro tahun kedua yang ingin uji coba hard skill-nya. Namanya juga pupuk bawang, bagiku dan teman-teman, ketika robotnya mampu berjalan saja bagi kami sudah menjual reputasi kami sebagai anak elektro yang rajin belajar, taat peraturan dan jarang seng yang aneh-aneh. Senang bukan kepayang, minta ampun.
”Maunya kok yang enak-enak. Uu..koe,tu!” nadanya khas jawa logat Jakarta, Betawi, campur Klaten. ”Tuh liat, Alim sibuk buat dasar PCB pake ORCAD, QQ sibuknya nganalisis sensor, malah ngajuin ke kita pake IC comparator lagi! Hapy siapin Weel, Aku programernya di AVR, dah jadi nih!, kamu subsidi dana, pye?”, dengan mantap ceplosnya ludah belepotan mengenai mukaku. Hujan Desember datang terlalu awal. ” Yee, nggak pake nyembur, dong! Waduh, kok kayaknya aku dikasih ke bagian teknis plus logistik, nih! Sesengsara itukah aku?”, tampangku innocent memelas bak anak kucing seperti biasanya. ”Habisnya, sih! Mustinya kamu juga pahamin modul, materi, googling, kek! Kamu ’kelelawar’nya KM juga, kan?!” tandasnya tegas. Kali ini hujan berhenti, tapi tinggal rintik gerimis dari mulutnya.
”Kelelawar KM”... ya, sebutan yang biasa bagi anak-anak Keluarga Mahasiswa Teknik Elektro yang sering menginap di Ruang KMTE, lower ground Teknik Elektro UGM. Bagaimana tidak. Bandwith internet yang menjanjikan, gratis, hingga larut malem, teknologi, informasi komplit, workshop, belajar bareng, bahkan bermain mutiplayer online via LAN (Local Area Network). Penat, namun ramai dan meriah. Siapa, anak kost kesepian yang mau menyia-nyiakan. Sama halnya denganku, dunia kost yang hanya berisi 2 pasang suami istri yang sudah bekerja, sepasang manajemen ekonomi, kerja di perusahaan, sepasang dokter satu di kimia farma, satu lagi di RS, 1 pembantu yang tidak begitu supel, tidak ada yang mempunyai frekuensi pembicaraan yang mirip dan mudah untuk di-tunnel. Sepi, hanya komputer di kamar yang menjadi sahabat. Ironis memang! Dimana kan kutemukan hangatnya kasih sayang...?
”Ya, udah, aku pelajari dulu modul2nya, kali aja pelan-pelan aku bisa ngejar kalian semua. Ato, jadi leadernya...Hua..ha..ha..!”, dengan muka tanpa dosa ku coba melindungi diri dari segala persepsi negatif Arif.
”Terserah kamu, lah! yang jelas, aku cuman mau negasin kalo jadi gabung, tuh jangan setengah setengah! yang konsisten! komitmen, dong!”, balas Arif mencoba memperjelas keadaan.
Memang, sepertinya aku terlalu memaksakan sesuatu yang pada dasarnya tidak terlalu ku sukai. Aku hanya berdalih pada partisipasi pasif dan terkesan ikut ikutan dalam kontes roboline ini. Pada dasarnya, aku lebih tertarik dengan dunia sosial dan keorganisasian ketimbang teknologi, apa lagi jurusan yang ku pilih terkesan menuntutku memahami dan terus mengikuti teknologi, programming, kendali, sensor, telekomunikasi...Ah.. pokoknya serba spaneng. Sebenarnya aku juga menginginkan hidup yang fokus. Hanya saja, jika aku melulu in dengan dunia itu, rasanya amat kusayangkan untuk meninggalkan realitas kampusku. Maklum, aku lebih cenderung tertarik dengan advokasi BEM lah, ya rohis, lah, aksi-aksi sosial, bakti sosial, pokoknya segala hal yang mendorong jiwa kritisku yang menyukai segala bentuk pemberontakan. Ya.. ”berontak” sepertinya sudah menjadi nama tengah ku.
”Rif, mo ngapain? DOTTA, yuk!”, sambil senyum memancing, kusiapkan mode Game War Craft Frozen Thorn sistem LAN, salah satu game online terpolpuler di dunia saat ini. ”Aku mo mindah data, abis itu pulang, siapin proposal KRCI (Kontes Robot Cerdas Indonesia), dong! malah Nge Game, wae!”, timpalnya tanpa kenal basa-basi.
Yah.., upayaku mencairkan suasana malah menjadi bumerang berbalik. Bagaimana tidak membuatku bete, padahal aku mengestimasikan 2 jam untuk menyiapkan artikel di depan komputer KM, tiba-tiba saja ada agenda tak terduga mengganggu, pikiranku buyar, semua analisis mawut. Ujung ujungnya bersenang-senang. Nge-Game dan mengalihkan kepenatan selalu menjadi pembenar jika aku sulit menentukan manajemen waktuku. Sekali lagi ku coba mendamaikan suasana, ”Gimana komentarmu soal coretanku pagi tadi, dah kamu baca, to? Yang soal Dan Brown itu.”
”Kamu, tu terlalu menjudge, deh! kok berani bener ngatain Dan Brown itu Freemason, emang punya bukti? emang mo kamu taroh mana tuh tulisan?” sambil mengklik folder dan send to Arif menengok sebentar ke arah monitorku yang berlayar background Dotta All Stars War Craft FT.
”Ya, tak apalah, namanya juga pemula and amatiran, asal bisa menggaet pembaca ke argumen kita, ambil kutipan sana sini, punya'nya Harun Yahya, tuh lumayan, kan!”, sambil mengklik attack di monitor, ku berdalih.
”Terserah, lah! O, ya! kalo udah dapet buku Templar yang tebel itu, aku pinjem, lo! Udah, ah! mo pulang, and jangan lupa fokus sama Robo Linenya, i’m absolutly serious”, sambil klik safe removable disk dia melajutkan. Selesai, dan sesaat itu juga beranjak, berlalu dari KM tanpa asap (emange sate, satte..satte!)
Padahal, malam ini juga aku memastikan dead line satu artikel khusus yang mengkritisi novelis sensasional Dan Brown dengan novel novelnya yang menuai kontroversi. Templar, Sion, Freemason, Illuminati, rasanya semua itu menggelitikku untuk ikut menganalisis, atau bahkan kajian jurnalis, Aku amat tertarik dengan strategi fiksi seorang Dan Brown yang menurutku pribadi bukan hanya sekedar sensasi, tapi sebuah misi. Kupikir, sensasi hanyalah efek samping. Aku memang terlampau mengandalkan argumen tanpa data komplit dan valid khas ”Knight Templar Knight Of Christ”nya Rizki Ridyasmara ataupun ”Ancaman Global Freemasonry”nya Harun Yahya. Pertama kali membaca ”Davinci Code”, kesanku mungkin biasa saja, it just a novel! Paling juga yang diserang Gereja, bukan umat islam. Tapi anehnya, aku menemukan berbagai argumen miring di novel ”Angels and Demons”, novel lainnya. Novel ini sangat berhasrat untuk menubrukkan agama dan ilmu pengetahuan. Walhasil, yang terpikir di otakku hanya satu, sekuleris yang satu ini ingin bermain-main dengan seorang iim, komentator ulung perihali ideologi nyleneh dan suka mengendus endus intrik-intrik modern khas misionaris.
Karena pengetahuan terbatas, hobi analisa ini seringkali menjadi prasangka dan sentimen negatif yang selalu ku tonjolakan. Namun, terlalu banyak adu argumen dan fakta-fakta kalimat fiksi dalam novelnya yang jelas-jelas propagandis. 3 hari yang lalu Mas Avi, kakak angkatan tahun keempat langsung menyambar dengan argumen tajam, ”Dua novel itu pada intinya sama aja, pengennya ...”, langsung ku sahut tanpa ijin,”Menubrukkan agama dengan ilpeng, ya? Setuju banget, mas!”
Entahlah, siapa Dany sebenarnya? Dengan insting advokasiku, aku bisa menebak model-model propagandanya. Aku butuh banyak referensi lagi, aku ingin membuktikan pada mass media bahwa Dan Brown pasti terlibat konspirasi tersendiri, atau mungkin disengaja untuk muncul di permukaan sebagai upaya pancingan sebuah konflik besar. Wuih...
Sambil terbayang-bayang Hero War Craftku yang kalah, kuputuskan beranjak, rencana maghrib di Mardiyah, bersebelahan dengan RS Sardjito yang amat dingin. Tak lupa artikel ku save di hard disk. Ku coba menenangkan pikiran dari kepenatan ruang KM yang ruwet dan sesak.
Seorang aktivis yang masih terombang-ambing hedonisme dunia, berlalu menuju rumah Alloh dengan terpaan gerimis lembut di senja maghrib RS Sardjito ...
.......***..........
”Im, Valentine, lo! meski PH belum rapat, kamu sebagai calon kabid MO musti segera counter isu besok, lo! Juliar udah ada file, tinggal diedit, lay out sederhana aja, terus copy, gampang, kan!”, tiba tiba mas Ardian menepuk punggung mengagetkanku dari lamunan akan si Pink yang selalu ku kagumi, untungnya hanya aku dan Alloh saja yang tahu siapa si Pink tersebut.
”Eh..., dilantik aja juga belon, aku juga belon tahu apa itu MO, emange aku setuju?!”, tiba tiba 100 joule keluar dari mulutku karena sentakan itu. Tanpa menggubris tolakanku, malah mas Ardian menambah, ”Pake aja komputerku di kamar, nggak pulang, kan? ntar di edit ama mas Erik kalo sempet, ato aku aja, sekarang aja, yuk! soal MO, entar juga ditransfer sama Mas Seto, ato Mas Yulian, mantap?”.
Seolah selingan itu langsung menambah 10 ton lagi di pundakku, aku beruaha beranjak, bismillah, semoga Alloh meridhoi. Amin. Apa gara-gara akhir semester kemaren akunya yang terlalu proaktif, padahal minim referensi, ataukah modelku yang kritis yang menyebabkanku ditarik ke Keluarga Muslim Teknik, Rohis Fakultas yang menjadi ajang belajar dakwah bagi kaum muda-mudi seperti seumuranku. Muktamar memang sudah berlalu. Tahun ini giliran kami angkatan kedua yang memegang peran konstitusi dan tampuk kebijakan dakwah lembaga kampus. Cepat-cepat kubuang perasaan sok kepala besar itu. Mungkin saja tidak ada pilihan lain, kader menguap, tumbang satu per satu, yang tersisa hanya beberapa. Tak ada akar, rotan pun jadi, masalahnya kami beberapa yang tersisa juga bukan rotan yang siap pakai. Masih memerlukan susu petuah dari pra tetua. Namun waktu brlalu, saatnya kami tumbuh dewasa. Hari itu akan datang juga, kami lah yang dipercaya. Harus bisa.
Ahh...tantangan, tapi ini juga amanah berat, belum lagi Roboline, KRCI, Seminar Nasional advokasi yang diundur, waduh, aku takut jika batasan area kerjaku di media Rohis Teknik terlalu melebar bahkan termasuki unsur-unsur advokasi dan propaganda tipeku. Bisa jadi senjata makan tuan jika terbawa ke Rohis. Must be anticipated!
Rencana artikel bubrah, justru ada agenda men-counter isu Valentine, kupikir urgen juga. Soal Dan Brown, prioritasnya gampang, lah! sambil jalan... ke Malioboro.. ”Ehhh, halo...matanya berapa watt, mas?”, timpalku dalam hati pada diriku yang tak kuat menahan mata yang terkantuk kebosanan di tengah monotonnya rutinitas hidup. Bored!
..........***.......
Selesai kuliah karena tertidur 45 menitan, -ah salah!- sengaja tidur. Dosennya telat, aku telat, materi semester 1 lagi. Rasanya mataku tak sanggup melihat diagram kordinat silinder saat kuliah Medan Elektromagnetik. Namanya juga ”mengulang”, kosa kata yang jarang bagi warga Teknik Elektro. Tapi akhirnya terjadi padaku juga. Mataku berkunang-kunang di meja plaza KPTU Teknik namun mantap di depan buku tebel Templar yang di minta Arif kemarin sambil menunggu Mas Seto, Kepala Bidang MO KMT tahun lalu. Baru beberapa jam lalu aku tahu kepanjangan MO, ya Media Opini. Kupikir ini peluang baru meng-upgrade diriku. Kami janjian, beliau hnedak menransfer perihal apa itu MO, visi-misi dan setersunya. Bahkan ku kira nanti akan ada semacam perdebatan ke arah mana aku diajak atau di robotkan. Aku menyebutnya ”robot”, karena kebanyakan angkatan kami diharuskan menuruti ideologi dulu sebelum mengenalnya. What is going on? I just let it in my life.
35 menit sebelum 'Ashar. Dari pada ku berada di musholla, kupikir KPTU lebih representatif untukku sambil membaca bacaan serius sekelas konspirasi Templar. Gerimis mulai merintik di tengah riuh rutinitas KPTU Teknik UGM. Satpam membeku di depan monitor TV kabel yang sengaja diletakkan untuk membantunya mengusir kebosanan menata motor di lapngan parkir. Kejenuhan terukir jelas di selasar yang penuh mahasiswa Arsitek dan Sipil dengan kalkulusnya. Beberapa mahasiswa dengan jaket kebanggan bertuliskan BEM FT UGM terus merumuskan ide-ide advokasi untuk beasiswa BOP bulan ini. Sayang aku tak bisa ikut lagi.
Sambil tersenyum aku mengingat pagi ini dimana aku melakukan tindak kejahatan terselubung. Aku menyebutnya jahat yang harus dan memang baik. Aku menyelundupkan artikel isu Valentine di tengah-tengah SMA Steladuce di Bunderan UGM. Jangan tanyakan caraku menyelundupkan. Satu buku mungkin bisa ku tuliskan untuk trik-trik jitu mata-mata organisasi seperti pagi tadi. Aku hanya meriang mengingat kejahilanku tadi. Anak SMA Steladuce yang hendak mengucap Selamat Valentine, tapi yang disebar justru artikelku, semoga saja tidak ketahuan. Kejam ...! tapi harus ... Ha... ha.. ha...
Strategi ini emang spontanitas, SMA yang nota bene khusus perempuan itu aku satroni, pelan-pelan, kuselipkan sambil lewat tanpa sedikitpun mata ke arahku. Lantas ku pergi jauh jauh, hah.. deg-degan. Tapi demi dakwah, Why not! meski terkesan miring, mereka berani, kenapa aku tidak? That’s my point for strugling isue against enemy.
Tiba tiba saja sekumpulan mahasiswa anggota HMI berdatangan di meja yang sama. Ooo.. rapat Donor Darah. ya.. positif, lah! Tak lupa juga aku menyebarkan buletin Valentine kemarin. Meski terkesan dadakan, tapi menurutku cukup menohok juga. Satu lagi, kertasnya berwarna pink. Cukup sudah keusilanku hari ini, 2 rim harus ku sebar dalam waktu sehari untuk melawan isu Valentine. Kata Mas Ardian, ini ujianku untuk lolos seleksi Kepla Bidang MO. Padahal dengan jelas ku pahami tak ada calon lain selain aku. Dan sekarang di tanganku tersisa 178 eksemplar. 500 eksemplar ku letakkan di Masjid Kampus UGM, 250 terbagi ke 17 fakultas selain Teknik, 250 sisanya seharusnya ku bagikan di Teknik, tapi seperti yang ku ceritakan, aku senang mengerjai Steladuce. Baru sisanya ku bawa untuk Teknik. Aku jelas tidak mungkin sendiri menyebar. Bisa-bisa tanda tangan kuliahku yang sudah bolong empat untuk mata kuliah Teknik Kendali bertambah satu, dan sia-sia aku mengerjakan software kelompok 3 minggu lalu karena tak memenuhi syarat kehadiran untuk ujian akhir. Aku harus tidak membolos. Aku merekrut 3 orang teman dari BEM untuk membantu menyebarkan. Mereka hanya meminta es pisang ijo. Tak apalah merogoh kocek sedikit, untungnya beasiswa PPAku sudah turun. Berbagi rejeki sesekali tidak sedikitpun mengurangi gaji bulananku.
Kutahan perut yang mengeluarkan dentuman kokokan ayam plus muka pucat ini. Tiba-tiba kulihat warna khas hari ini, 14 Februari, yang pasti satu warna selain selain pink. Yup, coklat, meski rasanya tak tega ku membiarkan sakit mag mendera untuk kelima kalinya semenjak kuliah di Jogja, tapi kuputuskan untuk tak melirik pesta bagi-bagi coklat di meja sekitar 5 meter dari tempatku duduk. ”Mumpung Valentine, sambil rapat, makan coklat, donk!”, teriak wanita berkerudung ABG, jeans ketat beberapa meter dariku sambil tertawa riang membahana dalam aura pink.
Sebenarnya risih, membaca membuat naluriku ingin mencari ketenangan. Tapi, ku pikir, mungkin saja aku mendapat sedikit gosip dan pengalaman, menguping. Hah..haa. Aku sedang ingin mendengarkan progress rapat Donor Darah. dalam kamusku, amit-amit dengan istilah Valentine. Tak apalah melihat situasi riuh, asal tidak melampaui batas.
Waktu tunggu toleransi tinggal 15 menit, semoga Mas Seto tidak mengikuti adat Indonesia yang sangat cinta dengan karet, termasuk ”Jam Karet”. Tiba tiba ... Perutku serasa di bom dengan akselerator proton seperti yang ku baca di ”Angels and Demons” Dan Brown. Memang aku hidup bukan untuk makan. Tapi, kata dokter saat seperti itu lambungku diisi dengan apapun agar tidak mengalami pendarahan hebat. Botol air mineralku kering, obatku di kost. Ya. Alloh ... ingin rasanya beranjak, tapi semua paku di dunia rasanya mengakar menempelkanku ke kayu kursi. Astagfirulloh... mataku mulai berair, tak tahan lagi.
Tiba tiba disamping kananku sebuah tangan mengacungkan kotak berisi coklat putih khas... tak tahulah! yang kupikirkan hanya lambung. Tapi.... akankah aku mengambil... Bismillah.... aku ambil coklat putih, lalu... perutku mulai bisa berkompromi, api panas mulai mereda. Seketika itu juga aku bisa melihat didepanku, sekitar 10 meter, seorang berkacamata, menenteng berkas dan tas pinggang, dengan jaket bertuliskan KMT, aku yakin itu pasti mas Seto. Tapi, ketika aku beranjak dengan segenap kekuatan yang tersisa dari ledakan big bang lambungku, kulihat mas Seto menjauh dan menuruni tangga plaza selasar KPTU dengan guyuran rintik hujan yang kian deras. Bisa ku pastikan, tidak mungkin mas Seto tidak melihat sosokku yang hanya beberapa jangkah kaki saja. Aku teringat kotak didepanku, apakah karena ini... Astagfirulloh. Mas, jangan salah paham, ini semua..., ya Alloh....Ku coba mengejar beliau, tapi sesaat itu pula mas Seto menginjak pedal gas, pergi dengan cepat dengan muka muram tanpa melirik sedikitpun di tengah huajan yang ikut menaungi sebuah kekecewaan.
Dengan hati gusar, ku bingung harus berbuat apa. Ku coba memberesi buku dan tasku, mencoba melangkah walau perut tak bisa mendongak. Namun, ketika ku tengok ke sisi luar tugu, sosoknya sudah raib. Habis sudah...! Sementara hujan bertambah lebat, tak mungkin aku bisa mengejar dengan Yamaha-80 ku yang berumur 25 tahunan.
Ku coba menyesali sikap egoisme perutku yang tak kenal kompromi. Padahal aku tahu, sah-sah saja makan karena semua bergantung pada niat. Mas Seto pun pasti tahu hukumnya, tapi mengapa..? Tiba tiba samar samar ku teringat. Tangan yang tadi mengacungkan kotak kepadaku memegangi perutku, seorang wanita. Ya Alloh, karena inikah..?
Aku harus segera bertemu dengan Mas Seto, menjelaskan semua kejadian. Aku tak tahu kapan hujan akan mereda, bahkan ku tak sempat pikirkan lambung untuk ke RS Sardjito. Meski tiba tiba tubuhku terhuyung kedepan dan dipandu sebagian laki laki HMI tadi. Perlahan.. dalam terduduk, seperti halnya hujan ini membasahi semua paving Teknik, air mataku bercucuran perlahan tapi deras. Tidak untuk perut egois ini, atau tanganku yang membantu, atau kotornya Valentine. Tapi karena sebuah kesalah pahaman yang membuatku teringat bahwa aku tak punya siapa-siapa lagi di Jogja. Hanya keluarga Rohis Teknik inilah yang ku punya. Kekasih, jauh di sana yang kudambakan dihati karena virus pink, juga tak membantu banyak karena ku tahu haram bagiku. Ya, Alloh.. mudahkan aku mendapat kasih sayangMu, ya Rob! terlepas hari ini dari kenistaan Valentine, hanya karenaMu, Ya Rob! Coklat ini terlalu egois, semoga Kau menyembuhkan lambungku tapi tidak untuk membakar perutku di akherat sana. Meski duniaku yang terombang-ambing hedonisme kampus Teknik, aku merasa wajib untuk melangkah dengan gunung dakwah di pundakku. Kepala Bidang MO KMT ...? lupakan! Bukan saatnya mempertanyakan itu, saatnya menegaskan idealisme ... Dakwah atau terus terombang ambing zaman.
(Huroir Extrovert)

Anda ingin Cerdas dan “GAUL” ?

Judul Buku : NGRASANI SBY
Pengarang : Erwan Widyarto
Penerbit : ADIWACANA
Cetakan : Pertama, Maret 2007

Kritik amat diperlukan sebagai wadah pengontrol sosial sekaligus menjadi aspirasi masyarakat. Masalahnya, kita, bangsa Indonesia , dibenturkan dua realitas di sekitar kita. Pertama, sebagai bangsa timur yang memegang adat kesopanan - meski telah banyak ditinggalkan, kita terbiasa segan mengungkapkan kritik di muka umum untuk orang yang kita anggap dihormati dan disegani, seperti elite pejabat dan pemerintahan. Wal hasil, jarang ada, orang, sebenarnya tahu adanya sebuah kesalahan yang perlu dibenahi, terkadang tidak mengungkapkannya ke publik meski telah di jamin Undang Undang. Seiring arus budaya barat, jiwa kritis nan bebas kian tumbuh di masyarakat. Nilai ini positif ketika keberanian dan sikap tanggung jawab ditonjolkan. Namun faktanya, masyarakat terjebak paradigma, bahwa mengkritik itu bebas, menodai kehormatan pihak yang dikritik. Tell the truth, tapi tidak mengindahkan etika ketimuran.
Kedua, masyarakat elite politik dan pejabat pemerintah yang biasa dikritik cukup arogan, lagi rentan terhadap kritik. Kebesaran hati sebagai seorang pemimpin belum nampak nyata di tengah keberlangsungan proses demokratisasi bangsa yang beradab ini.
Kita dapatkan pelajaran penting, bahwa mengkritik, ternyata haruslah cerdas. Orang cerdaslah yang bisa mengkritik cerdas. Melalui buku ini, kita, publik Indonesia yang belajar mengkritik, dipandu untuk selalu peka terhadap realitas di sekitar kita. Mulai dari masalah sosial, ekonomi, kebijakan pemerintah hingga segala hal yang mendorong kita berpikir bahwa bangsa ini, memang dalam masa keterpurukan dan merintih. Karena dengan mengetahui fakta sosial lah kita baru bisa mengkritik. Tahu pokok permasalahan, Coba memperbaiki keadaan. Berikan kritik dan saran konstruktif. Dan akhirnya, memberikan solusi terbaik.
Karangan seorang jurnalis profesional yang telah malang melintang, melanglang buana di dunia jurnalisme investigatif ini sangat unik. Prestasinya terbukti pada kepiawaiannya dalam meracik detil persoalan, menjadi materi laksana jamuan kesadaran perihal eksistensi kita sebagai saksi sejarah. Sebagai pengantar, Moh Mahfud MD membumbuinya dengan cerita cerita unik. Menjadi satu kesatuan yang nyaman dibaca.Keinginan seorang penulis dalam mengkritik secara fair dibuktikan dengan tampilnya empat aktor dalam setiap tulisan beserta “figuran” lainnya. Susilo, Bambang, Yudho dan Yono (SBY dan Y) melakukan kerja NGRASANI elite politik dan pejabat pemerintah lainnya sebagai pelaku penentu kebijakan sebagai seorang pemimpin yang menerima kritik.
Meminjam kata Moh Mahfud MD, buku ini membuat pembaca terperangkap dan sulit berhenti membaca karena keasyikan. Bahasanya sangat mengalir, kocak, mudah di mengerti dan padat berisi menjadi faktor penting penulisan buku ini. Bisa dibaca kapan saja, dimana saja, dalam posisi apapun asal memungkinkan membaca minimal 7 menit standar kecepatan baca. Bagi pembaca yang mempunyai kesibukan dan kekauan kehidupan, bahkan stress, buku ini sangat tepat membantu mengurangi, bahkan menghilangkan deprsi yang dialami. Bukan karena entitasnya, tapi justru terminal terminal yang disediakan dalam bentuk paket tulisan yang cukup pendek membuat buku ini bisa dibaca terpotong potong, tidak masalah ketika tidak urut, dan efek psikologis yang dihasilkan. Untuk setiap tulisan 7 menit baca, ada paket persoalan yang mengajak pembaca untuk melakoni jargon PERS (Peduli, Empati, Responsibilitas atau Responsif, dan Sensitif). Wal hasil, manifestasinya membuat pembaca tersenyum kecut, tersenyum sinis, tertawa renyah, bahkan mengurut dada.
Bagi siapapun yang bercita cita menjadi cerdas, belajar untuk cerdas atau memang sudah cerdas, buku ini menjadi amat menarik sekaligus unik dengan berbagai bumbu bumbu sindiran politik kritis nan pedas, namun tetap renyah dan tidak menyakitkan. Tidak hanya selesai disini, realitas yang dibawa penulis membuat wawasan pembaca menjadikannya menjadi orang dengan kategori yang bisa dibilang “GAUL” dan “modern”. Pasalnya, buku ini mengajarkan bagaimana membuat kritik menjadi santapan yang tidak menyebabkan masalah, namun menghadirkan keprihatinan sosial yang harus ditelaah dan masalah Indonesia yang segera harus diselesaikan, membuat bangsa ini bangkit dari keterpurukan.
Sayangnya, materi tulisan yang mendasarkan referensinya pada tulisan Radar Jogja tahun 2006 ini terkesan “kuno”. Fakta yang tidak update membuat buku ini sulit diprioritaskan dibanding bacaan lain. Wal hasil, cepat atau lambat, kemungkinan besar, buku ini akan mudah “usang”. Selain itu, penyusunannya yang mendasarkan pada berita koran, membuat pembaca merasa kesuitan mengingat-ingat kasus yang terjadi meski samar samar masih cukup mengiang. Bahkan, yang cukup menjadi masalah, karena buku ini bersifat alternatif, lagi selingan, buku ini hanya mengkritisi, bukan menjadi solusi. Yang terjadi, masalah banyak yang dibiarkan mengambang. Karena toh, mungkin, kehidupan bangsa ini ditentukan kebijakan pemerintah, jadi memang bukan ditujukan untuk mengadvokasi, hanya kritikan cerdas yang bersifat sindiran sesuai judulnya, NGRASANI.
Barangkali buku ini akan membawa metode klasik yang dibungkus dengan sampul baru dalam mengungkapkan kritik sosial ke muka publik terhadap realitas kehidupan Indonesia. Sebagai bangsa yang baik, tentunya kita sangat menghargai adanya kritik yang konstruktif tentunya. So, apakah anda ingin mulai menjadi pribadi yang cerdas, kritis dan GAUL ? Anda harus baca buku ini secepatnya.

Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs

Misteri Tanda Syahid Amrozi Cs Terkuak Jum'at, 14-11-2008 | 10:58:12 WIB

Tiada kata yang terucap melainkan kalimat takbir, Allahu Akbar, atas kondisi jenasah ketiga syuhada Bali . Betapa tidak, ketiga syuhada tersebut sangat jelas menampakkan tanda-tanda sebagai syahid seperti yang biasa ditemui di kancah peperangan, meski mereka 'tidak sedang berperang' melawan musuh Islam.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Kantor Berita Islam Muslimdaily.net mendapat ijin dari pihak keluarga, yang diwakili oleh Bp. Ali Fauzi, untuk mempublikasikan photo dua mujahid Bali yakni Amrozi dan Ust. Mukhlas. Bp Ali Fauzi berpesan agar photo ini disebarluaskan untuk memberikan bukti nyata atas misteri dan polemik yang terjadi ke atas Mujahid Bali, terutama Syuhada Tenggulun, terkait status mereka, apakah mati syahid atau tidak. Disamping itu memberikan hikmah nyata kepada seluruh kaum Muslimin bahwa perjuangan Islam yang mereka lakukan benar-benar ikhlas untuk tingginya kalimat Allah, dan bukan sekedar untuk aksi pamer.

Sebagaimana syuhada yang gugur dalam medan jihad, photo kedua syuhada Tenggulun terlihat tersenyum dengan barisan gigi yang terlihat rapi. Apalagi yang terjadi dengan Amrozi. Senyuman khas "The Smiling Bomber" yang seiring dengan kedua mata yang terbuka, terlihat seakan-akan bertemu dengan sesuatu yang membuat kagum. Mungkin sepasang bidadari yang menyambut ramah.

Kondisi tak jauh berbeda terjadi dengan jenasah Ust. Mukhlas. Ulama yang jago berorasi ini memperlihatkan senyuman dengan mata yang juga terbuka. Wajah bersih pun menjadi pertanda yang lain. Wajah bersih yang juga dimiliki oleh sang "Mujahid Hacker," Imam Samudera alias Abdul Azis. Imam memperlihatkan wajah tampan dan bersih, persis dengan kondisi Ust. Mukhlas.

Disamping analisis photo ketiga Mujahid Bali tersebut, keterangan dari lapangan makin memperkuat bukti bahwa ketiga pelaku aksi jihad tersebut adalah para Mujahidin, mereka telah memiliki niat yang tulus dan menemui kematian sebagai seorang syuhada. Berikut adalah bukti dan persaksian dari lapangan.
1. Salah satu pelayat yang kebetulan ikut hadir di kediaman Hj. Tariyem adalah Ust. Abdul Rachim Ba'asyir. Menyaksikan bahwa ketika keranda jenasah masuk dan kain penutup keranda dibuka, sontak tercium bau wangi yang menyebar ke seluruh ruangan. Kejadian ini sempat membuat keheranan para pelayat, karena didalam ruangan yang sempit tersebut udara sangat pengap dan pengunjung berjubel dalam satu ruangan. Bila merupakan wangi dari minyak wangi, tak akan mampu mengalahkan bau badan para pengunjung dan tidak akan dapat memberikan aroma dengan kadar wangi yang sama." Allahu Akbar. Itu bukan bau minyak wangi. Bukan. Tapi bau wangi dari asy syahid," kata beliau.
2. Selain itu, masih menurut Ust, Abdul Rachim, ketika kain penutup wajah dari Ust. Mukhlas di buka, terlihat jelas bulir-bulir keringat menempel di bagian muka. Kondisi yang sama yang terjadi dengan mereka yang masih hidup dan dalam kondisi kegerahan. Seakan Ust. Mukhlas merasakan kegerahan yang sama yang dengan kegerahan yang dialami oleh para pelayat beliau.
3. Sebagaimana dilansir oleh beberapa media nasional, seperti detik.com, nampak jelas terlihat fenomena datangnya tiga burung hitam di atas kediaman syuhada. Ketiga burung ini jelas bukan burung Gagak seperti yang banyak diberitakan di media, karena memiliki leher yang panjang. Mereka datang begitu saja berputar-putar selama kurang lebih tujuh menit, dan kemudian pergi berpencar. Dua burung hitam terbang ke arah Timur, mereka merepresentasikan diterimanya amalan jihad Ust Mukhlas dan Amrozi, dan satu burung hitam terbang ke Barat, sebagai pertanda syahid atas diri 'Mujahid Hacker' Imam Samudera. Fenomena datangnya burung hitam ini sempat membuat suasana haru dengan teriakan takbir para pelayat.
4. Seperti penuturan adik kandung Imam Samudera, Lulu Jamaludin, kakaknya menampakkan keanehan ketika akan dimasukkan dalam liang lahat. Bau wangi juga tercium dari jenasah Imam. Selain itu luka bekas tembakan peluru tajam terus menerus mengalirkan darah segar. Aliran darah ini keluar seperti yang terjadi dengan seseorang yang masih hidup ketika terluka. Masih menurut Lulu juga, wajah kakaknya lebih bersih dan tampan dari biasanya.
5. Kabar terakhir baru saja diterima oleh salah satu kru muslimdaily.net. Beberapa hari yang lalu, tepatnya tiga hari setelah pemakaman Amrozi dan Ust. Mukhlas, keluarga Hj. Tariyem meminta beberapa orang untuk menjaga makam. Hal ini dilakukan untuk menghindari dan menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Beberapa diantara mereka yang ikut jaga adalah Sumarno, Baror, Rosyidin, Mashudi dan beberapa santri pondok Al Islam Tenggulun Lamongan. Mereka mengatakan mencium bau wangi keluar dari dalam kubur (makam). Bau wangi yang sama saat mereka pertama kali membuka kain penutup jenasah syuhada. Namun, bau wangi ini bukan seperti bau dari minyak wangi yang biasa mereka pakai atau dipakai oleh orang kebanyakan.

Jelas sudah keterangan yang diberikan Allah s.w.t. lewat kebesaran-Nya. Meski banyak pihak yang membantah, memberikan suara sumbang, dan menggalang opini massa untuk memojokkan status para Mujahid Bali , serta membuat makar melalui kaki tangan aparat pemerintah, namun Allah berkehendak lain. Dan siapakah sebaik-baik pembuat makar ? (far/MD)

Senin, 11 Februari 2008

Anime, VI 2008, Upaya Melindungi Budaya Nasional dan Lokal





Gambar gambar ini saya crop dari PC Games Yugi Oh! Gambar-gambar ini tidak akan asing bagi anak anak kota metrolpolitan, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan beberapa kota tertentu lainnya. Bahkan mungkin beberapa diantaranya kategori remaja. Gambar gambar ini adalah beberapa contoh kartu seri permainan Yugi-Oh ! Anime (Japan Cartoon) yang sampai akhir sekarang masih booming sejak anime tersebut dirilis. Bahkan booming yang bisa dibilang mengejutkan di beberapa kota tersebut. Pasalnya DVD seri anime itu terjual cukup laris terutama di kalangan fans clubnya. Selain itu, seperti kebiasaan strategi promosi produk permainan Jepang lainnya, seperti crush gear, gasing modern, produk PC Games dan toolsnya (berupa set kartu seri) pun dijual laris manis di pasaran dunia, dan terus merambah Indonesia. Kartu-kartu tersebut diperjual belikan hingga ratusan ribu rupiah untuk setiap kartunya yang hanya berukuran sekitar 10 x 5 cm. Bahkan untuk beberapa kartu tertentu, harganya mencapai Rp 300.000,- an dan hanya bisa di order pada pihak distributor tertentu. Masalahnya, apakah gaya hidup ini lazim. Ada apa dengan produk permainan ini. Lalu kartu kartu dan produk Jepang lainnya. Mengapa sebagai bangsa Indonesia, kita perlu tahu.
Pada dasarnya, promosi produk Jepang, terutama mainan anak anak, selalu didahului dengan seri anime. Secara psikologis, anime membuat anak–anak melalui proses persuasif dimana permainan itu menimbulkan semangat dan motivasi, dibumbui intrik dan persaingan karakter-karakter didalamnya untuk meraih kemenangan. Bahkan, jika creator anime ini cerdas, sisi persuasif dan energi untuk mengeluarkan semangat khas Jepang dengan Ganbatte nya membuat tidak hanya anak-anak, bahkan kategori remaja, termasuk person yang labil pun mudah dipengaruhi (Jangan jangan kita juga). Berbeda dengan produk Amrik, Eropa atau Asia lainnya, sisi persuasive dan permainan psikologi anime Jepang sangat bermain disini. Porsi optimisme, etos kerja, disiplin, serta semangat hidup yang khas, membuat anime terkadang justru tidak cocok dinikmati anak-anak. Tapi toh, anak-anak tetap menkmatinya. Kondisi ini dibarengi aksesibilitas produk yang terjual di pasaran, membuat anak tidak ragu mengeluarkan kocek lebih dari uang jajan standar untuk menemukan experience-nya sendiri. Dari penjualan DVD, komik, PC Games, bahkan Online Games yang peluang profitnya tinggi, serta produk nyata di pasaran. Sebuah strategi marketing yang gurih.
Bandingkan dengan Dek Harry, karya JK Rowling. Meski Harry Potter melegenda, jutaan eksemplar terus dicetak, tapi marketingnya sangat terbatas, hanya buku dan teman teman kecilnya. Pernak perniknya tidak begitu booming. Beda halnya dengan anime. Setiap bulan, Jepang selalu mengeluarkan genre anime yang sangat beragam. Lihat saja Pokemon, Samurai X, Inuyasha, Yugi Oh dan terakhir Naruto sangat booming di negeri kita. Untuk yang terakhir, fans club di Indonesia saja bisa lebih dari jutaan, termasuk diantaranya anak-anak, remaja, bahkan usia mahasiswa. Komik, DVD series, PC Games sangat intens memasuki pasar lokal. Apakah ini sesuatu yang berbahaya, atau nothings to worry about? so what?
Di satu sisi, produk khas Jepang merepresentasikan satu budaya unik, menarik yang selalu mengedapankan semangat berjuang dan pantang menyerah. Hal ini terbukti dari kemajuan persepak bolaan Jepang yang diikuti anime semacam Tsubasa, dan beberapa anime lain yang bertemakan sepak bola. Atau promosi budaya local seperti Catur Igo dengan Hikaru No Go nya menjadi contoh unik lainnya. Jika produk budaya ini kita geser sedikit ke dorama (drama khas Jepang), atau aransemen music khasnya, menjadi satu contoh bentuk promosi sekaligus invasi budaya yang hangat diterima khalayak internasional. Sisi positif inilah yang seharusnya dipakai sebagai contoh Indonesia memperkenalkan budayanya. Bukan pura pura lupa produk sendiri, dan diaku bahkan di patenkan luar negri, sangat ironis. Di sisi lain, satu bentuk promosi budaya ini lama kelaman menjadi booming yang tidak dikontrol oleh pemerintah. Produk pasarnya melejit membuat masyarakat Indonesia menjadi kehilangan budayanya sendiri. Lupa budaya nasional, bahkan local. Tengok saja kembang kempisnya sanggar sanggar daerah. Salah satu factor pentingnya pun juga masyarakat local yang tidak lagi menyukai budayanya sendiri. Kesan katrok, ketinggalan jaman, selalu melekat pada produk local. Fondasi sosio-kultural ini tidak pula dibarengi dukungan pemerintah.
Kembali ke persoalan, apakah budaya Jepang ini sebegitu berbahayanya, sehingga fondasi benteng budaya perlu diperkuat atau phobia belaka? Jawabannya ada pada fakta fakta anime.

Jepang dan Zionisme

Fakta menunjukkan produk anime selalu terkait dengan simbologi dan framing The New World Order Zionis. Gambar kartu Yugi Oh diawal secara berurutan adalah symbol dewa Mesir dan Okultisme Zionis yang dimodifikasi, lalu 2 iblis, upacara, Ibu Bumi (Gaia), dan 2 terakhir symbol pengorbanan khas upacara Zion. Bukti lain adalah symbol bintang David di berbagai anime. Pokemon yang berarti “Aku tidak percaya Tuhan”. Lalu karakter khas Jepang yang setengah dan berhati bias. Yang jelas, representasi Zionisme, New World Order, Okultisme dan simbologi Yahudi selalu muncul di setiap produk anime. Pada akhirnya, analisis terhadap produk anime Jepang sebagai contoh, membuat satu kesimpulan logis, ada satu budaya yang coba dimasukkan ke pikiran, dalam hal ini target utamanya adalah anak-anak, dan tidak menutup kemungkinan orang dewasa pula. Budaya pluralisme, kesenangan pada hal mistik, upacara okultisme, simbol, sihir, Mesir, kebiasan antara kebaikan dan kejahatan dan seterusnya. Isu ini lebih dari sekedar isu religi ataupun sosio-kultural. Lebih dari itu, isu ini menyangkut satu sistem besar yang dipersiapkan Zionisme seperti dalam Protokol Zion yang sudah banyak beredar di masyarakat untuk mengusai aset local suatu negara, dalam kasus ini, budaya. Hal ini bukan lagi phobia, dan harus menjadi perhatian serius untuk melindungi budaya nasional. Masalahnya, produk ini memasuki Indonesia dengan bebas. Lalu bagaimana dengan pemerintah?

Visit Indonesia Year 2008 sebagai Titik Tolak

Dengan adanya VI (Visit Indonesia Year) 2008, seharusnya kekuatan pemerintah untuk membangkitkan budaya nasional dan local semakin kukuh. VI 2008 harus dimanfaatkan dengan serius menguatkan akar budaya dan kontinuitasnya dipertahankan bukan hanya menuntut kemandirian masyarakat local. VI 2008 tidak selesai hanya menarik minat wisatawan asing dan mengedepankan jargon devisa negara. Tapi justru titik awal mengembalikan kekuatan budaya local dan pola pikir masyarakat yang truly Indonesia. Terakhir kali, program VI (Visit Indonesia) 2008 lebih menguntungkan pengusaha pariwisata modern dibanding kesejahteraan local dan kontinuitas budaya itu sendiri.
Selain itu, harus ada filter cultural yang membatasi masuknya produk budaya asing yang mempunyai peluang booming yang tidak terkontrol. Suatu sistem undang-undang serta regulasi tayangan film atau media dan produk mainan yang tidak mendidik adalah salah satu solusi utuk meyelamatkan pola pikir masyarakat dari penjajahan budaya agar bangsa ini bangga pada budayanya sendiri.

Selasa, 05 Februari 2008

UKHUWAH yang BERKARAKTER untuk KEMANDIRIAN UMAT

Ukhuwah, Modal Sosial Kemandirian Umat.

Segala bentuk konsep ukhuwah selalu disuguhkan berulang ulang untuk menghadapi berbagai masalah klasik umat. Banyak yang berhasil, karena implementatif, namun banyak yang berakhir pada tataran konsep menghadapi realitas sosial yang amat berbeda.

Dikatakan Dr. Yusuf Qordhowi dalam bukunya Masyarakat berbasis Syari’at Islam,
“… salah satu nilai sosial kemanusiaan yang ditekankan Islam adalah persaudaraan (ukhuwah). Hendaknya manusia hidup di masyarakat dengan ikatan perasaan layaknya anak dalam keluarga. Mereka saling mencintai dan memperkuat, sehingga benar benar terasa bahwa kekuatan saudara adalah kekuatannya dan kelemahan saudaranya adalah kelemahannya juga. Ia akan merasa tidak berarti jika sendirian, dan akan merasa berarti ketika bersama sama saudaranya.”1

Dr. Yusuf Q. menjelaskan dalam bukunya melalui konsep dasar ukhuwah dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Seperti cinta dengan saudara seiman, hingga itsar dengan berbagai tingkatannya. Lalu kerjasama, saling membantu dan menyayangi menjadi representasi positif bentuk ukhuwah tersebut. Bentuk ini mewujudkan sokongan material dan moril untuk umat.

Ketika perbedaan menjadi masalah, dengan serius, beliau menitikberatkan pada musyawarah untuk memberi jalan perbedaan pendapat, baik dari tingkatan individu, keluarga hingga bermasyarakat. Meski konsep ini terasa hambar ketika tidak disentuhkan dengan realitas umat yang ada, setidaknya banyak upaya yang telah diusahakan untuk menyesuaikannya dengan kultur umat yan beragam, karena konsep dan teori tidak serta merta secara langsung bisa dipraktekkan. Penyesuaian selalu dilakukan untuk mewujudkan keadaan yang mendekati ideal.
Ketika sebuah kekuatan ukhuwah terbentuk, kesiapan umat menghadapi zaman semakin mantap. Ada satu titik yang menjadikan umat ini siap dan mantap, yaitu sebuah kemandirian.

Mandiri bukan hanya diartikan sebagai bentuk materiil, yang hanya dihitung dari segi fisik. Meski memang satu segi yang konkret, namun ada bentuk kemandirian yang lebih urgen. Beberapa faktor lebih merepresentasikan kemandirian sebagai modal kebangkitan umat. Seperti motivasi dan karakter keIslaman. Kemandirian fisik akan kokoh dan terkontrol ketika disokong kemandirian spirituil yang baik, pribadi yang mempunyai karakter dan motivasi kuat dengan kesolidan ukhuwah.

Bila secara individu, setiap muslim bekerja mengembangkan potensi diri secara produktif maka akan lahirlah satu umat yang memiliki perekonomian yang kuat. Setiap individu akan mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Individu-individu ini akan membentuk kesatuan umat mandiri dengan adanya ukhuwah yang mampu merealisasikan kemerdekaan dan kepemimpinannya, keteladanan dan kesaksian bagi umat lainnya. Ketika ukhuwah tidak ada, setiap pribadi ini akan bekerja sendiri, melihat dunianya sendiri dan tidak terbentuk sistem tatanan sosial kemasyarakatan yang madani. Kelelahan personal dan tidak optimal, sebuah proses panjang yang tidak bisa dikerjakan individual dan butuh ketahanan kuat yang hanya bisa diatasi dengan adanya ukhuwah.

Melihat fakta di lapangan, makin bertambahnya waktu, ukhuwah umat semakin rapuh. Ketika kita menilik lebih dalam mengapa fondasi ukhuwah serapuh ini, kita temukan faktor faktor klasik yang tidak segera diselesaikan oleh umat sendiri. Realitas membuktikan umat dalam keadaan sakit, mempunyai virus virus moral yang akut, hedonisme, konsumerisme, jauh dari kata religius, jauh dari mengenal agamanya sendiri. Bahkan tidak sedikit individu yang telah lama berada dalam komunitas religius justru terombang ambing menghadapi badai trend dan mode zaman. Pola pikir umat menganggap agama sebagai dogma dan normatif, bukan suatu konstruksi implementatif dan integratif untuk membangun entitas kemasyarakatan. Semua ini lahir dan membudidaya karena faktor internal umat yang tidak terbina serta faktor eksternal tak pernah berhenti mendera.

Umat yang teramat bermasalah

Point persoalan internalnya sebenarnya sangat jelas, klasik dan dekat di mata umat. Seperti keimanan, ibadah dan akhlak, sosial, dan intelektualitas umat yang makin bertambahnya waktu makin sulit dan melelahkan untuk dikerjakan menjadi PR bersama. Ditambah lagi, penyakit bangsa “sisa penjajahan” melekat kuat di tubuh umat. Keterbelakangan IPTEK dan industri, serta paradigma “Barat” sebagai kiblat mengakibatkan umat kehilangan jati diri, pandangan hidup, semakin hilang karakter Islamnya, luntur dan menjadi mangsa yang selalu siap diterkam zaman.

Intelektualitas yang Menurun

“Kepengarangan ilmiah dari negara-negara Muslim tidak ada yang mencapai 0.3% dari seluruh karya ilmiah dunia. Bahkan jika digabungkan pun jumlahnya juga tidak mencapai 0.5%. dari seluruh dunia yang menghasilkan 352.000 karya ilmiah, negara-negara Muslim hanya 3.300, sedangkan Israel 6.100 buah.”2


Hal ini membuat posisi Islam tidak diperhitungkan lagi. Buruknya sistem pendidikan Islam mengindikasikan intelektualitas menjadi hal yang tidak diprioritaskan. Akibatnya, ketajaman berfikir dan berkreasi umat menghadapi realitas global makin tumpul dan menurun. Ironisnya, justru munculnya sistem yang mengacu barat, menjadi kiblat yang seolah menjadi berita baik atas nama modernisasi ilmu. Akibatnya, ajaran Islam sendiri tidak bisa menyatu dalam kehidupan umat. Nafas sekulerisme hanya menjadi sekedar ketakutan, namun justru setiap hari di hirup seolah oksigen. Al hasil, apa yang dipersepsikan pada ajaran Islam adalah phobia, doktrin dan normatif belaka. Pada akhirnya, jiwa yang terbentuk tidak lagi mengacu pada ajarannya. Ketika umat menghadapi pertikaian, sifat yang ditonjolkan adalah emosi, mengambil sudut pandang yang sempit dan mudah diprovokasi oleh kepentingan golongan.

Jurang Intelektualitas

Keberhasilan golongan intelektual muslim, yang benar-benar memahami ajarannya adalah aset dan potensi umat. Sayangnya, keberadaanya terlalu sering menyuguhkan solusi konseptual yang tidak melihat peliknya teknis lapangan dan konkritnya masalah umat. Ketika langkah strategis telah didapat, justru masalah sosialisasi dan komunikasi di lapangan tidak memperhatikan adanya jurang intektualitas. Tidak memperhatikan resource yang ada dan seolah menjadikan umat seperti robot yang siap menerima konsep dan menerjemahkannya sendiri. Akhirnya, ketika beberapa konsep intelektual yang seharusnya bisa dimusyawarahkan ini bertubrukan di lapangan, umat justru saling beradu dan tidak bersinergi.

Faktor Teritorial

Pada tataran negara, kondisi teritorial umat yang banyak dan kecil-kecil menjadikan umat Islam selalu dalam keadalaan berpecah belah. Sehingga negara Muslim lebih banyak disibukkan dengan perebutan batas negara dan munculnya paham sukuisme dan nasionalisme sempit.
Fathi Yakan mengungkapkan
“Sampai saat ini semua peranan bangsa Arab dan Islam hanya berada di pinggiran. Hampir tidak diperhitungkan dalam menghadapi percaturan tatanan dunia baru. Perpecahan bangsa Arab dan Islam, tidak adanya proyek Arab atau Islam yang berskala internasional, menjadikan semua proyek Arab dan Islam hanya bersifat lokal dan sektarian. … permasalahan palestina, selalu tunduk pada kebijaksanaan politik nasional dan kepentingannya sehingga tidak memiliki dimensi Arab, apalagi dimensi Islam”3


Fanatisme Madzhab dan Gerakan

Karakteristik pergerakan Islam bak jamur di belahan bumi manapun. Begitu patah satu, tumbuh seribu. Di Indonesia, sejak zaman kolonialisme hingga pasca reformasi, berbagai pergerakan Islam silih berganti membangun usaha sinergi dakwah. Namun, mimpi sinergi itu ternyata sulit diwujudkan mengingat kultur yang majemuk, ijtihad dan mazhab yang berbeda serta ideologi yang multi persepsi dalam mengimplementasikan Islam secara integral.

Ketidaksadaran umat akan perbedaan mazhab membuat ukhuwah menjadi renggang. Umat belum paham tools-tools ijtihad dan cenderung reaktif dengan berbagai provokasi, baik oleh opini yang berkembang di media maupun hawa nafsunya. Seringkali bentuk dialog dan proses komunikasi yang dijalin justru menjadi boomerang ukhuwah, berujung pada ‘ashobiyah dan saling menjelekkan. Alih alih mempertaruhkan citra dakwah satu sama lain, atas nama ashobiyah golongan dan bukannya Islam, yang terjadi justru membuat kader dan mad’u lari dan da’wah menjadi tidak produktif.
Justru sebaliknya ketika mazhab dikomunikasikan dengan liberalisme dan post modernisme, seperti ada magnet akulturasi barat dan ajaran Islam. Al Wara’ wa Al Bara’-nya menjadi terbalik. Hal ini kontra produktif, sangat fatal dan merugikan umat.

Perang Opini

Pekerjaan mengembalikan kepercayaan umat akan jati diri Islam ini semakin sulit dengan berbagai masalah eksternal seperti Perang Opini dan Pemikiran yang meresahkan pembinaan umat dan menjauhkan umat dari pedomannya. Belum lagi masalah internal tuntas dikerjakan, keberadaan peperangan ini justru memperburuk keadaan ukhuwah umat. Miskinnya umat terhadap informasi memudahkan pemegang informasi mengendalikan opini dengan sangat mudah. Al hasil, krisis identitas umat dan kemiskinan informasi yang disambut dengan pembentukan opini publik dan pemikiran destruktif seperti kapitalisme, materialisme, imperialisme epistimologi, serta modernisasi ala barat menjadi faktor signifikan yang memperkeruh ukhuwah umat.

Mencoba Menyelesaikan

Beberapa solusi untuk menguatkan kembali ukhuwah, haruslah dimulai dari pribadinya, baru pengkaderan pergerakan dan akhirnya satu bentuk peradaban. Ketika satu garis kontinu ini dikerjakan dengan fokus dan terarah, kemandirian umat akan terwujud.

A. Membina Transendental Question (TQ) Umat

Munculnya generasi awal umat ini yang oleh Asy Syahid Sayid Qutb diistilahkan dengan ‘Generasi Qur’ani yang Unik’ itu tidak datang begitu saja. Tidak, bahkan ia melalui sebuah proses yang disebut dengan Pembinaan dan Pendidikan. Banyak pihak telah melakukan kerja kerja pembinaan dan pendidikan untuk ummat. Hanya saja, optimalisasinya tidak terkontrol dan outputnya tidak ter-follow up-i dengan baik. Sehingga, begitu individu selesai terbentuk oleh pembinaan, memasuki alam liar, terhempas begitu saja di tengah arus zaman. Pekerjaan panjang menjadi suatu hal yang sangat disayangkan. Ada satu masalah tidak sistematis dan komprehensif dalam pembinaan umat saat ini, pembinaan hanya menekankan skala normatif dan nilai.
Satu bentuk pembinaan yang menjadi alternatif implementatif adalah Transendental Question. TQ atau Transendental Question adalah kemampuan untuk memahami dan melaksanakan aturan secara transendental. Bagi umat Islam, aturan tersebut adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Ketika berbicara tentang transendental, maka dimensinya adalah keIlahian. Yang berlaku adalah aturan dan ketentuan Alloh. Bukan lagi sekedar nilai nilai kebaikan atau norma norma kehidupan dalam perspektif manusia. Bukan pula sekedar etika dan nilai universal tentang HAM. Dalam kecerdasan transendental, nilai, norma dan etika kemanusiaan dibawa lagi ke dimensi yang lebih tinggi untuk mendapatkan pengesahan
Dalam bukunya, Syahmuharnis dan Harry menjelaskan
“…manusia manusia yag memiliki TQ tinggi, secara otomatis memiliki EQ (emosi), SQ (spiritual), CQ (kreativitas), AQ (mental), dan RQ (relasi) yang tinggi pula…”4


Selanjutnya beliau menjelaskan orang dengan TQ tinggi, memahami dan mengamalkan aturan transendental secara sungguh sungguh. Mereka menjalankan kehidupan dengan selalu mengerahkan akal budi, menjaga kesadaran diri, mengedepankan etika dan moral, dilandasi iman dan takwa, mengacu pada aturan transendental, Al Quran dan As Sunnah. Semua perilaku ini adalah komponen TQ.

Pembinaan TQ dilakukan secara basis, dari iman, ibadah, akhlaq, dan ilmu. Melalui proses perencanaan, implementasi, pemantauan, perbaikan, hasil dan evaluasi, kembali lagi merencanakan yang lebih baik dari hasil evaluasi tadi, dan begitu seterusnya. Pembinaan ini dilakukan dengan lima tahap, Tabligh (Informasi), Ta’lim (Edukasi), Takwin (Indoktrinasi), Tanzhim (Organisasi), Tanfidz (Aplikasi).
Ketika setiap TQ pribadi terbentuk, sudah barang tentu konsep ukhuwah lebih mudah didapatkan. Selanjutnya, proses pembinaan kejama’ahan dilakukan. Pembinaan ini didasari prinsip-prinsip Ukhuwah Islamiyah, musawah (persamaan), ta’awun (tolong-menolong/gotong-royong), takaful ijma’i (senasib sepenanggungan), jihad, ijtihad dan amal (berjuang, berkreasi dan berkarya) fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan), tasamuh (toleransi) dan istiqamah (berdisiplin di atas jalan yang lurus).

B. Kaderisasi serta Menjunjung Etika Pergerakan dan Organisasi

Tidak ada keberlanjutan tanpa adanya kaderisasi. Bung Hatta pernah menyatakan kaderisasi dalam kerangka kebangsaan, “Bahwa kaderisasi sama artinya dengan menanam bibit. Untuk menghasilkan pemimpin bangsa di masa depan, pemimpin pada masanya harus menanam.”

Dari sudut pandang umum, point kaderisasi dapat dibagi dua, subyek dan obyeknya. Subyek, bertugas menyiapkan sistem regenerasi yang berkesinambungan. Sementara obyek, di siapkan untuk meneruskan visi dan misi sebuah pergerakan ataupun organisasi. Baik subyek maupun obyek, keduanya haruslah memenuhi fondasi dasar dalam pembentukan kader yang handal, cerdas, dinamis, serta matang baik intelektualitas maupun mentalitasnya. Keberlangsungan organisasi terletak sejauh mana komitmen, loyalitas dan keterlibatannya secara intens dalam dinamika organisasi, dan rasa tanggung jawab melanjutkan perjuangan organisasi yang dirintis dan dilakukan para pendahulunya.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah potensi dasar kader. Potensi dasar tersebut dapat dibaca melalui perjalanan hidupnya. Sejauh mana kecenderungannya terhadap problema-problema sosial lingkungannya. Begitu potensi kader didapat, langkah selanjutnya adalah menempatkan diposisi yang tepat. Yang membuat pekerjaan ini menyenangkan adalah kreasi dan inovasi format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen organisasi, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya, termasuk karakter keislamannya.
Baik Ormas, LSM, Pergerakan Islam maupun Lembaga Dakwah memang tidak mungkin mempunyai visi Islam yang diimplementasikan sama, artinya, proses pengkaderannya pun bermacam macam. Nah, pada tataran ini, ukhuwah umat menjadi hal yang harus diperjuangkan, mengingat daerah ini rentan dengan perpecahan umat.
Seharusnya titik ini menjadi sistem kinerja dakwah yang saling berbagi ranah, lahan, serta resource. Ada yang bekerja ditataran sosial kemasyarakatan, ada pula pendidikan, politik, maupun ekonomi. Ketika terjadi pertemuan di bidang dan kewilayahan yang sama, seharusnya bukan benturan, friksi maupun benteng yang dipertajam, justru asas ukhuwah dan musyawarah menjadi titik temu. Kalaupun tidak didapatkan hasil yang memuaskan, setidaknya rasa percaya dan berbaik sangka menjadi telepati sosial antar umat.

Representasinya terlihat dengan tidak berebutnya pergerakan terhadap kader maupun mad’u. Tidak mengambil alih lahan yang sudah dipercayakan pada pergerakan lain, termasuk di dalamnya menghormati ideologi dan urusan internal organisasi maupun pergerakan islam lain yang memang mengharapkan demikian. Alih alih mempertaruhkan citra dakwah satu sama lain, atas nama ‘ashobiyah golongan dan bukannya islam, yang terjadi justru membuat kader dan mad’u lari dan da’wah menjadi tidak produktif. Pekerjaan bersama ini tidak perlu saling menomorduakan satu sama lain, tidak saling menyikut maupun menghujat, tapi justru menjadi satu kekuatan yang konstruktif.
Haidar Natsir menyebutkan,
“Sikap saling menghormati, toleransi, ukhuwah, kerjasama, dan menjaga batas batas antara organisasi dan gerakan sesama umat Islam justru menjadi penting. Bukan saling mengintervensi dan menginfiltrasi, yang pada akhirnya dapat merusak bangunan dan kekuatan umat Islam secara keseluruhan. Persamaan bukan untuk diperhimpitkan apalagi menjadi alasan untuk saling mencampuri dan masuk ke rumah tangga antar sesama gerakan Islam. Perbedaan juga bukan untuk dipertentangkan apalagi menjadi benih konflik. Karena itu setiap gerakan Islam saling menjaga etika/akhlak gerakan, kehormatan, kemandirian, dan tatanan gerakan lain di lingkungan umat Islam. Insya Alloh jika sikap moderat seperti itu dipelihara dan dijunjung tinggi, maka akan tercipta kemaslahatan dalam gerakan Islam di Indonesia.”5


Mengacu pendapat ini, bisa diambil satu hikmah bahwa ukhuwah harus bisa dijalin dengan saling menjaga perbedaan. Justru dengan adanya pembagian kinerja dakwah, jaringan dan kerjasama antar gerakan dan elemen organisasi Islam bisa dibentuk. Lembaga, pusat studi dan kajian serta ormas Islam harus memiliki jaringan yang kuat dan luas sehingga informasi dan ukhuwah dapat senantiasa terbina. Saling menyokong resource antar pergerakan pada tataran tertentu dan tidak kalah penting adalah asas kepercayaan, akan memungkinkan kerja umat yang berat menjadi lebih ringan. Dari bentuk ini, gagasan kemajuan Islam dapat disintesiskan dan kerja serta gerakan dapat disinergiskan sehingga dakwah bisa lebih optimal. Dengan mengumpulkan setiap potensi pergerakan dengan jaringan dan kerja sama ini, upaya membangun kemandirian menjadi berbobot tanpa adaptasi produk sekuler.

C. Mewujudkan Peradaban Islam, solusi alternatif

Satu langkah alternatif yang dapat dilakukan adalah membangun peradaban Islam. Jelas tidak mudah dan butuh generasi penerus dan kontinuitas. Pemikiran ini membutuhkan pemikiran kritis dan analitis kalangan intelektual yang berkualitas serta sistem yang kita sebut dengan sistem prophetik untuk Islamisasi Ilmu. Suatu sistem yang mengacu semua epistimoogi ilmu untuk dirunut ke dalam Islam, arahan agar mengembalikan semuanya pada Al Quran dan As Sunnah. Ketika bertemu dengan modernitas, bukan berarti faktor kekinian merubah fondasi keislamannya.

Al Faruqi mengusulkan 12 langkah untuk Islamisasi ilmu yakni (1) penguasaan disiplin ilmu pengetahuan modern, (2). survei disiplin ilmu, (3). penguasaan khazanah Islam: sebauah Ontologi, (4). penguasaan khazanah ilmiah Islam: sebuah sintesa, (5) penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu, (6). penilaian kritis terhadap ilmu maodern, (7). penilaian kritis terhadap khazanah Islam, (8). survei permasalahan yang di hadapai umat Islam, (9) survei permasalahan yang dihadapi umat manusia, (10) analisis kreatif dan sintesis, (11) penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan (12) penyebarluasan ilmu yang telah diIslamisasikan itu.

Langkah ini perlu ditindak lanjuti ketika membina kemandirian umat. Ketika ilmu dikuasai, konsekuensi logisnya adalah penguasaan teknologi. Dengan melimpahnya kuantitas kaum intelektual muslim yang dilandasi ukhuwah, niscaya teknologi dapat dikuasai oleh umat Islam.

Membangun Kemandirian Ekonomi

Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi mampu diimplementasikan dengan baik, perekonomian bisa distimulus. Karena kemandirian umat tidak terlepas dari kemandirian ekonomi. Meski disadari membangkitkan perekonomian negara negara muslim adalah kerja yang berat, namun proses ini tidak perlu dihentikan dengan ketakutan intervensi asing, embargo maupun kapitalisme. Sikap kooperatif antar umat islam dan mengupayakan swasembada pangan serta pemenuhan kebutuhan primer menjadi kunci pokok terlepas dari kapitalisme. Perlahan, namun pasti, keterpurukan ekonomi dapat dibenahi.
Bank Syariah yang geliatnya cukup signifikan, bahkan diterima kalangan investor asing sebagai satu contoh. Sistem Syari’ah terbukti ketangguhannya melawan krisis ekonomi dunia. Dan sangat potensial membangun kemandirian ekonomi negara. Pendirian skala global dapat dilakukan dengan kerjasama global dunia Islam sehingga bisa lebih berpengaruh.

Ukhuwah Islamiyah, Kunci Utama Kemandirian yang Berkarakter dan Penuh Motivasi

Semua potensi umat, solusi solusi yang diberikan, kunci kunci kemandirian yang telah dikemukakan tidak akan berhasil menjadi satu resultan torsi yang optimal tanpa adanya landasan kebersamaan dalam fondasi Islam yang kokoh dari segenap pihak dari setiap elemen masyarakat dan negara. Sebuah Ukhuwah Islamiyah menjadi pelumas dari setiap friksi yang memungkinkan kerja menjadi tidak solid.

Umat harus sadar bahwa setiap elemennya dapat berkontribusi untuk membangun sebuah kemandirian. Berbagi kerja, saling percaya dan terus membangun komunikasi sehat yang efektif. Bukan komunikasi yang dipertautkan dengan nafsu maupun kepentingan yang tidak berfaedah untuk umat.

Sebuah kemandirian akan mempunyai karakter jika saling memperkuat sesama pembentuknya. Saling bersinergi, melindungi, dan menyokong satu sama lain. Karakter ini tercermin dari sikap umat yang selalu mengedepankan Al Quran dan As Sunnah sebagai pijakan utama. Ketika hanya masalah furu’ yang menjadi masalah, hal yang diusung tetaplah sama, Islam.

Ketika sebuah ukhuwah didera dengan berbagai goncangan opini dan pertarungan media yang tendensius, rasa percaya terhadap saudaranya mengalahkan itu semua. Didasari dengan sikap selalu berpikir positif, menghargai perbedaan sudut pandang dan kultur yang beragam, serta menjalin silaturrahim sesamanya. Membangun motivasi dan berlomba lomba dalam kebaikan. Wallohu A’lam bi Ash Showab

Foot notes :
1. Yusuf Qordhowi, Masyarakat BerbasisSyari’at Islam: Akidah, Ibadah, Akhlaq, 2003, h. 221
2. Pervez Hoodbhoy, Sains dan Islam: Usaha Memenangkan Rasionalitas, 1973.
3. Dalam Fathi Yakan op. cit. juga dituliskan tentang dimana posisi umat Islam dalam tatanan dunia baru.
4. Syahmuharnis dan Harry S., Transcendental Quotient, h. 64
5. Haedar Nashir, Manifestasi Gerakan Tarbiyah, viii